SELAMAT DATANG

SELAMAT BERSELANCAR DI BLOG FORGEMA

Radio Suara-forGEMA

Klik Play Untuk Mendengar Radio Ende -->

Jumat, 16 Mei 2014

Kisah Bocah Penjual Ikan

“..Ikan..!! Ikan..!! ..sepuluh ribu..!! ..Ikan..!!!!”

Sang Mances masih asik angguk-anggukkan kepala ikuti dentum sang musik taksi kota yang cadas (sambil terus tersenyum dan sesekali bersenandung riang).. ketika sukma diam ini sontak tersentak lagi.. dan lagi.. pada kelebat sosok-sosok suci itu..
[..sucinya sang Cikal Bumi Ende.."]








“..ikan..!! ..ikan..!! ..sepuluh ribu.. Ikan..!!!”

Oh… sang Bocah suci..

Iya… Iya… kelompok Bocah bergonti-ganti personal terbatas yang hampir setiap siang melintas di depan Perumnas teriakkan kata senada: “Ikan..!! Ikan…!! Ikan..!!”.
Kemarin dulu, melanjut “..sepuluh ribu!!”, minggu lalu “..dua puluh lima ribu..!!”, bulan lalu “..limabelas ribu..!!” , dua bulan lalu sempat pula “sepuluh ribu tiga..!!” ..untuk ikan dengan ukuran & jenis yang sama.
Ach..!! Teriakannya begitu tipis meski nyaring.. mengiris-iris bathin ini.
Sebagian Bocah, dengan rambut kering bercabang kekuningan.. dengan lengan gontai berbalut kulit tipis kecoklatan berbalur rona kekuningan ‘tak lazim menjinjing ikan.. di sela tarikan dan hembusan napas tersengal dari kedua lubang hidungnya yang penuh oleh aliran stagnant sekret kuning kehijauan.. dengan dada yang kembang kempis tonjolkan gurat deretan tulang rusuk mungilnya.. di balik T-shirt seadanya.. di atas area lambung-limpha-lever-pancreas-renal yang tampil membuncit.

..imbas deraan endemi Malaria sedari Batita-kah?.. luluk lantak dan sudah sedemikian dini letihkah kinerja organ-organ sensitifmu..


…. atau akibat yang lain, Dik?


Bocah kesayangan sang Bumi Ende… mengapa bisa..????

Bagaimana peran setiap sektor terkait selama ini…? Terlampau sulitkah kendalanya..?? Begitu kompleks-kah sehingga musti (………. speechless )
Meski senyatanya memang tidak semuanya semiris itu.
Ada pula yang tampak begitu “kekar” dan ber”energi”. Berbalut kulit coklat mengkilap.. dengan tatapan yang. . .
..t’lah tergusur ke mana senyum riangmu, sang Bocah kesayangan..??
..kembali menyentak kuat bathin ini.

Ooh, t’lah tergusur ke mana senyum riangmu, Bocah kesayangan..??


Peluhmu begitu deras basahi poni rambut kecoklatanmu. Terlampau beratkah beban ikan yang musti kau tenteng berkilo-kilo meter itu? Belum lakukah sedari di depan Puskesmas tadi, Dik?


Ke mana Ayahmu, Dik..? Sedang apa Bundamu?? Sedang sehat atau tidakkah mereka? Mengapa harus Engkau yang menjajakan ikan di siang terlampau terik begitu..?? Sudah makan siangkah dirimu, tadi? Hauskah, detik ini?


..bersekolah atau tidakkah engkau, Dik? Di mana? Kelas berapa? Tadi berangkat ke Sekolahkah atau tidak? Masuk atau tidakkah Gurumu?


..apa sudah sempat mengulang mata pelajaran, sedari pulang sekolah tadi, Dik? Ada tidakkah PR dari Gurumu hari ini?


Ooh….

“Ade, kamu jual barapa, ka? ..sepulu ribu? SIP..!! .. Kaka beli satu ee“, suara riang Mances buyarkan sesaat tanya benakku.. Seikat ikan segar bawaan sang Cikal pun segera berpindah tangan ke Abang Kondektur di belakang. Segera ditenteng ke kediaman Mances untuk hidangan makan malam Keluarganya...

Bocah suci.. sang Cikal Ende,


engkau memiliki kesempatan yang sama dengan Cikal manapun di Negeri yang sama kita cintai ini. Engkau pun berhak atas pendidikan, kesehatan, serta seluruh sarana prasarana pendukung standard Hidup yang ada.


Engkau berhak atas masa indah dan riang masa kecilmu, Dik.. Berhak atas waktu leluasa untuk bermain riang dengan rekan sebayamu.. bercanda tawa sesuka Hati.. berlarian.. mempelajari dan mengksploitasi alam sekitarmu dengan lepas dan riang..


Bocah Suci, engkau berharga. Engkau bagian Penerus Bangsa ini. Kepada siapa estafet sang Negeri kelak dihibahkan.


Iya.. Iya.. CINTA.. Penghargaan.. serta Kesempatan.. menjadi urgent sungguh di deret kebutuhan tumbuh kembangmu, Dik..


Tetaplah melangkah maju, yea.. Kaka ingin kalian masih tetap setia bermimpi .. seperti mimpi masa kecil Kaka berpuluh tahun berlalu. Dan, ayunkan langkah-langkah kecil kalian ‘tuk mewujudkannya satu demi satu.. 


Kaka akan bantu semampu Kaka, Dik..


Kita saling mendoa, yea..

Jumat, 25 Oktober 2013

JEJAK PEMIKIRAN BUNG KARNO DI TANAH MALAYA



 Sumber: Berdikari

Tanggal 4 September lalu, seorang sastrawan Malaysia ditangkap oleh polisi Malaysia. Namanya Datuk A Samad Said. Penyebabnya, pada tanggal 30 Agustus lalu, sastrawan sepuh ini terlibat pengibaran bendera “Sang Saka Malaya”.

Sang Saka Malaya adalah bendera Merah-Putih dengan 12 bintang kuning di bagian sudut kiri atas. Pada tahun 1940-an, bendera ini dipersiapkan sebagai bendera nasional dari negara Malaya yang bakal dimerdekakan. Negara merdeka yang mau dimerdekakan itu dinamai “Indonesia Raya”.

Pada awalnya, saya sendiri bingung dengan hal di atas. Namun, setelah mengorek-ngorek sedikit sejarah perjuangan rakyat Malaya, saya menemukan sebuah titik terang: perjuangan anti-kolonial di Malaya sangat dipengaruhi oleh perjuangan rakyat Indonesia.

Dua spektrum utama pergerakan rakyat Malaya, yakni gerakan komunis dan nasionalis, sangat dipengaruhi oleh pejuang-pejuang kemerdekaan dari Indonesia. Pemberontakan PKI pada tahun 1926/1927, yang berkobar di Jawa dan Sumatera, juga berpengaruh bagi tumbuhnya sentimen anti-kolonial di Malaya. Cheah Boon Kheang (1983) menyebut penyebaran komunisme di Malaya tidak terlepas dari pengaruh tiga komunis dari Indonesia, yakni Tan Malaka, Alimin, dan Musso. Sementara kebangkitan gerakan nasionalis progressif di Malaya tidak terlepas dari andil tokoh terkemuka gerakan nasionalis Indonesia, yakni Soekarno.
Nah, kita akan lebih spesifik membahas pengaruh Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Malaya. Di sini, ada dua organisasi–setidaknya tokoh-tokoh utamanya–yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Soekarno, yakni Kesatuan Melayu Muda (1938) dan Partai Kebangsaan Melayu Malaya (1945).

Kebangkitan Nasionalisme Malaya
Gerakan nasionalis di Malaya, seperti juga di Indonesia, tidak terlepas dari andil kaum terdidik. Namun, kalangan terdidik ini terbelah dua, yakni kaum tua dan kaum muda. Faktor pembelahnya sebetulnya adalah gagasan dan pemikiran. Kaum tua mewakili pandangan konservatif dan sangat kolot. Sebagian besar pengikutnya adalah kaum feodal dan bangsawan. Aspirasi nasionalismenya pun sangat sempit dan pro-Inggris. Sementara kaum muda mewakili pemikiran progressif dan revolusioner. Mereka sebagian besar dari kalangan menengah dan bawah. Mereka ini kemudian mengembangkan nasionalisme progressif dan anti-kolonial

Di Malaya, seperti juga Indonesia, pusat penyebaran ide-ide nasionalisme adalah sekolah tinggi atau Universitas. Di sana ada namanya  Sultan Idris Training College (SITC). Banyak pengajar di sekolah ini adalah nasionalis. Literatur-literatur pergerakan Indonesia banyak disebar di sekolah ini. Koran-koran dari Indonesia, seperti Seruan Rakyat, Pedoman Masyarakat, Pandji Islam, Bintang Islam dan Bintang Hindia, juga terbesar di sekolah ini.

Nah, ketika Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, pengaruhnya sampai ke Malaysia. Organ propaganda PNI, Fikiran Ra’jat, juga merasuki alam pemikiran kaum terdidik Malaysia. Banyak pemikiran Soekarno dituangkan dalam Fikiran Ra’jat ini. Banyak mahasiswa SITC terpengaruh gagasan Bung Karno. Salah satunya bernama Ibrahim Yaacob. Dia adalah seorang keturunan perantau dari Bugis, Sulawesi Selatan, yang merantau ke Malaya sejak tahun 1920-an. Kelak, Ibrahim Yaacob inilah yang memainkan peranan penting dalam gerakan anti-kolonial di Malaya. 

Melalui koran Fikiran Ra’jat, Ibrahim mulai menyerap pemikiran Bung Karno dan ide nasionalismenya. Bahkan, berdasarkan pengakuan Ibrahim (1957) sendiri, ia bersama empat kawannya–Hassan Manan, A. Karim Rashid, Yaakub Amin, dan Mohammad Isa bin Mahmud–menjadi anggota PNI secara rahasia. Ibrahim Yaacob menjadi anggota PNI antara tahun 1929-1931. Penangkapan Soekarno berpengaruh bagi Ibrahim dan kawan-kawan. Akhirnya, mereka pun bergerak di bawah tanah. Pada tahun 1932, Ibrahim sempat ikut Partai Republik Indonesia (PARI), yang didirikan oleh Subakat, Jamaludin Tamim dan Tan Malaka.

Pengaruh Nasionalisme Kiri
Bagi saya, yang menarik untuk diketahui adalah seberapa jauh pemikiran Soekarno mempengaruhi gagasan kaum nasionalis Malaya. Di sini, saya mencoba melihat sosok Ibrahim Yaacob. Kenapa dia? Karena dia termasuk pionir gerakan nasionalis Malaya.
                       Ahmad Boestamam dan Ibrahim Yaacob. Keduanya adalah aktivis KMM dan PKMM.

Saya kira, kontribusi terpenting dari pemikiran Soekarno terhadap Ibrahim adalah lahirnya sebuah nasionalisme yang progressif, anti-kolonial, dan anti-feodal. Untuk diketahui, Ibrahim sendiri sangat menentang nasionalisme yang disuarakan oleh kaum feodal Malayu saat itu karena sangat reaksioner, sempit, dan pro-penjajah. Slogan dari nasionalis feodal itu adalah: Malaya untuk Melayu (Malaya for Malays). Padahal, pada kenyatannya, Malaya dihuni oleh banyak sekali etnis dan ras, yakni Melayu (48%), China (40%), India (10%), dan lain-lain (2%). Sebaliknya, kaum nasionalis progressif–dalam hal ini Ibrahim Yaacob dkk–menghendaki “hak hidup bagi seluruh Rakjat jang tertindas supaja mendapat Kemerdekaan” (Ibrahim Yaacob, 1957)

Pada tahun 1937, Ibrahim Yaacob dkk mendirikan organisasi bernama Kesatuan Melayu Muda (KMM). Berdirinya KMM menandai momen penting sejarah politik Malaya, karena ini pertama kalinya kaum melayu yang anti-feodal, anti-Inggris, dan pro-Indonesia mengorganisir diri dalam sebuah organisasi politik (Byungkuk Soh, 2005). Yang menarik, seperti dikatakan Yaacob sendiri, KMM mengambil inspirasi dari organisasi kepemudaan di Indonesia, yakni Jong Java dan Jong Sumatera. Selain itu, KMM menyatakan dirinya sebagai organisasi nasionalis yang menentang penjajahan Inggris. Dalam strategi perjuangannya, KMM mengadopsi strategi PNI, yakni non-koperasi terhadap pihak penjajah. Kemudian tujuan politiknya adalah memperjuangkan Malaya merdeka di atas kesadaran nasional yang luas dengan tujuan: mempersatukan Malaya kepada satu ikatan Indonesia-Raya, agar seluruh suku bangsa orang Melayu (Malay-races) mendjadi satu bangsa jang besar di Asia Tenggara (Ibrahim Yaacob, 1957). Penggunaan kata “muda” bukanlah mengacu pada usia, melainkan pada pemikiran. Di sini, “muda” merupakan antitesa dari ‘cara berfikir lama”. Di sini Ibrahim menekankan bahwa pemikiran nasionalis muda menolak pemikiran nasionalis feodal yang sempit/chauvinis.

Cita-cita ‘Indonesia Raya’
Dalam sebuah tulisannya di Majlis, salah satu organ KMM, yang muncul di tahun 1939, Ibrahim menyerukan agar semua orang Melayu meninggalkan cara berfikir etnis (puak-puak) dan mulai berfikir sebagai kesatuan Melayu secara keseluruhan. Bagi Ibrahim, ras Melayu sebetulnya sangat besar, yakni melebihi 65 juta orang (meliputi Malaya dan kepulauan Indonesia), tetapi lemah dalam perasaan nasional dan pengalaman bersamanya karena dipecah-belah oleh fikiran sempit kaum feodal dan kolonialisme Inggris. Karena itu, sembari mencontek semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 di Indonesia, Ibrahim menyerukan perlunya “kesadaran/perasaan baru” di antara Melayu di Malaya jajahan Inggris dan di bekas Hindia-Belanda untuk bergabung dalam sebuah gerakan nasionalis yang lebih besar, yakni Melayu Raya atau Indonesia Raya.

Dalam mengkampanyekan idenya, Ibrahim mengambil inspirasi dari Soekarno dan PNI. Ia juga berusaha menjelma sebagai orator dan pemimpin politik. Ia mengambil banyak gaya berpidato Bung Karno. Namun demikian, Ibrahim gagal diterima sebagai pemimpin secara luas oleh gerakan anti-kolonial di Malaya. Sebab, selain KMM, ada juga gerakan anti-kolonial lain, yakni PKM (Partai Komunis Malaya). Karena sikap anti-Inggrisnya, pada tahun 1941, hampir semua pimpinan KMM diangkap Inggris. Mereka kemudian diangkut ke Singapura, termasuk Ibrahim Yaacob, Ishak Hj. Moham­mad, Mohd. Isa Mahmud, A. Karim Rasjid, Hassan Manan, Idris Hakim, Ahmad.Boestamam, dan lain-lain. Namun, begitu Jepang datang, mereka dibebaskan. 

Namun, pada tahun 1942, KMM pun dilarang Jepang. Karena itu, KMM kemudian menerapkan dua strategi: ilegal dan legal. Secara ilegal, mereka terlibat dalam gerakan anti-fasis dengan bekerjasama PKM dalam Malayan Peoples Anti-Japanese Army (MPAJA). Sementara beberapa pimpinan legalnya bekerja sama dengan Jepang. Di pertengahan 1945, Jepang mulai menjanjikan kemerdekaan terhadap Indonesia. Hal itu didengar pula oleh Ibrahim Yaacob dkk. Untuk menyongsong kemerdekaan bersama Indonesia, Ibrahim membentuk organisasi Kesatuan Rakjat Indonesia Semenandjung (KRIS). Pada tanggal 8 Agustus 1945, KRIS mengibarkan bendera Merah-Putih.

Pada hari yang sama, delegasi Indonesia, yakni Soekarno, Hatta, dan Radjiman, berangkat ke Saigon, Vietnam, untuk bertemu Marsekal Terauchi (pimpinan tertinggi Jepang di Asia Tenggara). Pada saat pulangnya, 13 Agustus 1945, Bung Karno dan rombongan mampir di Taiping, Perak. Di sana ia bertemua Ibrahim Yaacob dkk. Di situ, Ibrahim Yaacob menyampaikan bahwa kemerdekaan Malaya tercakup dalam Kemerdekaan Indonesia. Konon, mendengar keinginan Ibrahim Yaacob itu, Bung Karno berkata, “Mari kita ciptakan satu tanah air bagi seluruh tumpah darah Indonesia.” Ibrahim kemudian menjawab, “Kami orang Melayu akan setia menciptakan ibu negeri dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami orang- orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia.” Proklamasi kemerdekaan itu direncanakan akhir Agustus 1945.
              Pertemuan Bung Karno, Bung Hatta, Radjiman dengan Ibrahim Yaacob di Taiping, Perak, tahun 1945.

Sayang, cita-cita itu kandas. Jepang tiba-tiba menyerah tanggal 14 Agustus 1945. Di Indonesia, karena desakan pemuda revolusioner, Proklamasi Kemerdekaan dilangsungkan lebih cepat: 17 Agustus 1945. Namun demikian, KRIS menyelenggarakan kongres pada tanggal 16-17 Agustus 1945. Keputusannya: tetap memperjuangkan kemerdekaan penuh Malaya di dalam kerangka “Indonesia Raya”. Ibrahim Yaacob sendiri berangkat ke Jakarta.

Pada 17 Oktober 1945, bekas aktivis KMM dan KRIS mendirikan partai politik baru, yakni Partai Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM). Partai ini melanjutkan cita-cita politik KMM. PKMM dipimpin oleh Dr. Burhanuddin selaku Presiden, Ishak Haji Muhammad sebagai Wakil, dan Ahmad Boestamam sebagai Sekretaris Jenderal.

PKMM ini sangat dipengaruhi oleh Soekarno. Di dalam film “10 Tahun Sebelum Merdeka” karya Fahmi Reza diperlihatkan bagaimana aktivis PKMM sangat terpengaruh ide-ide Soekarno. Kata-kata Bung Karno yang terkenal “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia” sangat membakar semangat pemuda-pemudi Malaya. Istilah “Marhaen” juga sangat populer di Indonesia.

Untuk meluaskan pengaruhnya di kalangan massa, PKMM membangun organisasi massa: Angkatan Pemuda Insaf (API), Angkatan Wanita Sedar (AWAS), GERAM, dan Barisan Tani Se-Malaya (BATAS). PKMM dan ormas-ormasnya itu kemudian melebur dalam Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Sementara organisasi progressif yang lain membentuk membentuk aliansi bernama AMCJA (All Malayan Council for Joint Action). Pada tahun 1947, PUTERA dan AMCJA ini menyatu untuk menolak rencana Federasi dari Inggris.

Untuk melawan konsep Federasi Malaya-nya Inggris, PUTERA-AMCJA membuat konsep sendiri melalui “Perlembagaan Rakyat/Konstitusi Rakyat”. Dalam rancangan PUTERA diusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, bendera Merah-Putih sebagai bendera kebangsaan Malaya, dan negaranya berbentuk kerakyatan. PUTERA juga mengadopsi dasar kebangsaan PKMM yang mirip sekali dengan Pancasila, yakni: 1) Ketuhanan YME, 2) Kebangsaan, 3) Kedaulatan Rakyat, 4) Persaudaraan Sejagat, dan 5) Keadilan masyararakat.

Sayang, cita-cita ini kandas. Kendati para pekerja dan rakyat Malaysia menggelar pemogokan umum menolak Inggris pada 20 Oktober 1947, tetapi Inggris dan UMNO tetap bergeming. Pada Februari 1948, Inggris mengesahkan Federasi Malaya. Tak lama kemudian, semua organisasi rakyat yang menentang kolonial, termasuk PKMM, API, AWAS, dll, dilarang. Ahmad Boestaman ditangkap. Para aktivis PKMM bekerjasama dengan PKM kemudian melakukan perjuangan bersenjata bertahun-tahun di hutan. Gagasan “Indonesia Raya” dan bendera “Sang Saka Merah-Putih” menjadi barang haram.

Pasca 1950-an
Setelah keluar dari penjara pada tahun 1955, Ahmad Boestaman mendirikan Partai Rakyat Malaya (PRM). Partai baru ini benar-benar mengadopsi ajaran Soekarno. Azasnya disebut marhaenisme. Partai ini juga mengambil ajaran Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi dari ajaran Soekarno. Belakangan, PRM ini melebur dengan Partai Buruh Malaya, yang juga didirikan oleh eks-PKMM, yakni Ishak Haji Muhamamd, menjadi Front Sosialis Rakyat Malaya. Peleburan itu berlangsung tahun 1958. Partai front ini sempat ikut pemilu tahun 1959. Partai ini sempat meraih 8 kursi di parlemen nasional dan menjadi partai terbesar ketiga di parlemen.

Namun, bersamaan dengan konfrontasi antara Indonesia-Malaysia, partai ini mendapat represi. Banyak pimpinnanya, termasuk Ahmad Boestamam, ditangkap. Sejak itu, partai ini mengalami kemunduran. Pada tahun 1965, seorang tokoh muda bernama  Kassim Ahmad mengambil alih kepemimpinan partai. Ia kemudian mengganti ideologi partai dengan sosialisme. Namanya pun diubah menjadi Partai Sosialis Rakyat Malaysia (PSRM). Tetapi Ahmad Boestamam tidak lagi di partai ini. Ia kemudian bersama Ishak membentuk Partai Marhaen Malaysia. Ia mencoba kembali menghidupkan Front Sosialis pada pemilu 1974, tetapi gagal. Ishak kemudian bergabung dengan PAS tahun 1985. 

Ketika PSRM kembali menggunakan PRM, tetapi sudah membuang sosialisme dari nama dan konstitusi partai. Itu terjadi tahun 1989. Salah seorang pentolan PRM, Dr Mohd Nasir Hasim, meninggalkan partai. Belakangan, ia bersama aktivis muda membentuk Partai Sosialis Malaysia (PSM). PSM mengambil ideologi sosialisme. Belakangan, PRM yang dipimpin oleh Syed Husin merger dengan Partai Keadilan Nasional. Hasil mergernya dinamakan Partai Keadilan Rakyat (PKR). Kendati sejumlah anggota partai Keadilan menolak merger ini karena menganggap PRM berhaluan sosialis dan anti-agama.

Selasa, 24 September 2013

Opini: CONCLUSION ANALISIS SUSTAINABLE PLAN PROVINSI FLORES


Oleh: Marlin Bato.
Jakarta, 24 September 2013



Perwujudan Provinsi Flores telah didukung oleh masyarakat dan potensi yang dimiliki yang sesuai ketentuan UU. Oleh karena itu diharapkan agar political will dari pemerintah melalui implemetasi kebijakan otonomi daerah menyetujui rencana pembentukan Provinsi Flores. Undang-undang telah memberikan peluang untuk itu, tujuan utamanya agar terjadi peningkatan kesejahteraan dan keberdayaan masyarakat. Pada gilirannya nanti, keberdayaan ini akan menjadi fondasi yang kokoh bagi perwujudan good local governance di Flores khususnya dan di Indonesia umumnya. Untuk itu, diharapkan pembentukan Provinsi Flores dapat menciptakan kondisi kompetitif di daerah bersangkutan terutama antara lembaga pemerintah dan swasta, antara swasta dengan swasta, atau antara lembaga pemerintah baik yang menyangkut kualitas pelayanan maupun mutu hasil kerja. Untuk mengetahui seberapa jauh kesiapan Flores untuk menjadi Provinsi sesuai ketentuan UU maka di bawah ini akan dipaparkan fakta – fakta melalui analisa Swot.

A.    Kekuatan

1.    Potensi Ekonomi

a.     Potensi Laut
    Potensi kelautan Flores  terdiri dari berbagai jenis ikan, terumbu karang, mutiara teripang, dan  lain sebagainya. Jenis ikan kualitas ekspor tersebut adalah jenis ikan pelangis seperti ikan tuna, cangkalang dan jenis ikan demersal seperti ikan kerapu dan kakap. Selain itu di perairan Flores juga terdapat jenis ikan lain, seperti ikan tongkol, kembang, selar, layang, lemuru, teri, tembang, ekor kuning, baronang, merlin, deho-deho, pari, hiu, nener, cumi, ikan hias, dan berbagai jenis ikan lainnya
    Daerah perairan pantai Flores yang terbentang luas di hampir seluruh wilayah, Flores Daratan, Adonara, Solor, dan Labuan Bajo sangat bagus untuk dikembangkan usaha budidaya laut yang sangat cocok untuk mutiara (jenis inctada sp), budidaya rumput laut (jenis Eucherna Cattoni dan Eucherma spinosum), dan budidaya ikan keramba, seperti ikan kerapu dan rumput laut.

b.     Pertanian

    Pada sektor pertanian, hasil pertanian berupa tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, beras, vanili, jambu mede, hasil hutan rotan, sayur-sayuran buncis, cabe, dan tomat.

c.     Perkebunan

    Tanaman perkebunan meliputi kelapa, kemiri, kopi, dan jambu mete. Sedangkan komoditi lain meliputi kakao, cengkeh, coklat, pinang, dan kelapa terdapat hampir di semua kecamatan sepanjang pantai di Flores.

d.     Peternakan
    Populasi ternak besar sapi, kemudian diikuti kerbau, dan kuda. Jenis ternak kecil, kambing 15.756 ekor, domba 1.014 ekor, dan babi 61.732 ekor. Sementara ternak unggas ayam dan itik, dengan populasi ayam 233.680 ekor dan itik 18.051 ekor. Klaster peternakan cocok dikembangkan di kecamatan Soa,Bajawa Utara, Golewa, Riung, dan Riung Barat.

e.     Pariwisata
    Taman wisata alam, gugus Teluk Maumere, Danau Kelimutu,  Komodo, Pantai Pede, Wae Cecu, Pantai Nangahure, Pantai Waliti merupakan beberapa wisata alam.

f.     Pertambangan
    Potensi pertambangan emas, timah, mangan, dan lain-lain.

  
2.     Potensi Wilayah

1) Tersedianya sumber daya alam (natural resource) seperti sumber daya keragaman hayati (biodiversity), padi (sawah & gogoranca), jagung, kacang tanah, kemiri, jambu mete, kopi, coklat, ternak (sapi potong, kerbau, kambing, babi, ayam buras), perikanan dan hasil pertanian lainnya yang tentunya dapat menarik investor.

2) Tersedia tenaga kerja/sumber daya  manusia (pertanian, pertenunan, pertukangan, perdagangan, dan lain-lain) yang dapat ditingkatkan kemampuannya untuk mendukung berbagai program pembangunan di Flores.

3)     Potensi kelembagaan pemerintahan dan adat (local wisdom) seperti pembagian tanah dengan sistem kebersamaan dalam kekeluargaan dan lain-lain.

4)     Potensi kerukunan antar umat beragama yang dapat menciptakan iklim kondusif bagi proses pembangunan.

 B.  Calon Ibu Kota

1)    Jarak tempuh rata-rata ketiga calon ibukota provinsi Mbay, Ende & Maumere dengan ibukota kabupaten memadai.
2)    Rasio luas lahan budidaya terhadap  luas lahan daerah memadai.
3)    Jarak tempuh ibukota kabupaten dengan ibukota provinsi memadai.
4)    Jarak dengan ibukota provinsi lain ideal (Kupang dan Denpasar).
5)    Jarak sumber daya air dengan pusat pemukiman kota memadai.
6)    Luas wilayah keseluruan kota memadai.
7)    Rasio jumlah penduduk sektor pertanian dan SDA dengan total penduduk memenuhi syarat  pertumbuhan penduduk.
8)    Memiliki sarana dan prasarana pelabuhan udara & laut, terminal, jalan, mobil dan motor, kapal motor, dan perahu.

C.    Hambatan/Ancaman


a.    Membutuhkan biaya yang sangat besar untuk dapat membangun ibukota provinsi yang ideal.
b.    Tidak mendapat persetujuan dari DPR dan Pemerintah Provinsi.
c.    Jumlah pegawai negeri masih sangat terbatas.
d.    Ramainya aktivitas penambangan akan memberi dampak lingkungan pada masyarakat terutama masyarakat pedesaan di Dabosingkep.
e.    Kecenderungan ketidakteraturan pembangunan bangunan baru (threat to landscape quality of city).  Kecenderungan masyarakat membuat     bangunan baru tanpa mengindahkan ketentuan  yang berlaku serta tidak memperhatikan lingkungan.

D.    Kelemahan

1.    SDM terdidik terbatas
    Jumlah penduduk  usia kerja  pada tahun 2008, 68,08 persen di antaranya berpendidikan maksimal tamat SD, 31,92 persen sisanya berpendidikan tamat SLTP ke atas. Pada tahun yang sama 88,57 persen penduduk berumur 10 tahun ke atas dapat membaca dan menulis, sedangkan 11,43 persen sisanya buta huruf.
    Bila dirinci menurut jenis kelamin, sebanyak 9,79 persen penduduk laki-laki usia kerja buta huruf, angkan perempuan sedikit lebih besar persentasenya yakni 13,01 persen. Pada tahun 2006 anak yang berumur 7 – 12 tahun 7,31 persen di antaranya tidak sekolah. Persentase tidak sekolah ini menurun pada tahun 2007 yaitu 6,33 persen dan turun lagi menjadi 4,77 persen pada tahun 2008.

2.    Minimnya tenaga ahli dalam bidang teknologi dan manajemen bisnis.

3.    Sarana dan Prasarana
    Infrastruktur pendukung
a.    Sarana dan prasarana pendukung dalam rangka menopang kelancaran pelayanan publik masih sangat terbatas (gedung kantor pemerintahan).
b.    Sarana dan prasarana jalan
    Sarana dan prasarana jalan penghubung antara ibukota kecamatan dan desa banyak yang belum memadai ( belum beraspal).

E.    Kesempatan

1.    Dengan potensi yang dimiliki, Flores akan berkembang menjadi sebuah provinsi yang dapat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan nasional melalui potensi yang dimilikinya yakni
a.    potensi wisata alam, komodo, wisata budaya, dan lain sebagainya menciptakan multiplier effect bagi perekonomian setempat dan  perekonomian global.
b.    menciptakan multiplier effect bagi perekonomian  akibat dari pembukaan jalur  penerbangan sebagai akibat dari potensi wisata yang dimiliki.
c.    Memiliki sumber daya alam yang mendukung (natural resources). Aktivitas pertambangan selain akan memberikan kontribusi bagi perekonomian juga dapat menampung tenaga pengangguran.
d.    Potensi kelautan, pertanian, dan peternakan dapat mendorong peningkatan investasi melalui kemudahan investasi untuk menangkap peluang  perekonomian akibat globalisasi ekonomi.

2.    Infrastruktur
a.    Peluang perdagangan dan perekonomian yang lebih luas akan tercipta bila prasarana yang ada dapat digunakan seoptimal mungkin seperti penggunaan lima bandara dan lima pelabuhan laut yang ada.
b.    Dengan besarnya biaya yang dibutuhkan dalam meningkatkan sarana dan prasarana pendukung administrasi pemerintahan dan sarana dan prasarana jalan maka, akan  berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang dapat mengurangi  pengangguran.


Semoga bermanfaat.. Salam Hormat...!!

Minggu, 09 Juni 2013

Sepi Pengunjung, Pelaku Wisata Moni Datangi Pos Jaga Taman Nasional Kelimutu

Kontributor: Aloysius Ngaga, (Ende Flores NTT)
Editor: Marlin Bato (Jakarta)

 
Jakarta Kompasianer, Senin, 10 Juni 2013,
Fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini di danau kelimutu membuat warga yang bermukim disekitarnya merasa tidak nyaman. Hal ini juga membuat para pelaku wisata di Moni Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende Flores NTT, mendatangi pos jaga Balai Taman Nasional Kelimutu/BTNK 8 Juni 2013.


Mereka yang tergabung dalam komponen pengusaha home stay, pramuwisata, pedagang kecil serta para ojeker’s yang beroperasi disekitar kawasan wisata kelimutu tersebut ingin mempertanyakan kondisi terakhir gunung api yang juga kawasan wisata kelimutu, sebab sejak penetapan stastus Waspada Level II oleh  petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG membuat objek wisata kelimutu sepi pengunjung, pasalnya hal ini mengancam penurunan omset mereka sehari-hari.

“Kami sebenarnya mendatangi kantor vulcanologi karena petugasnya telah berada di sini, maka kami pun langsung datang ke pos ini”. Ungkap Tobias Gembira, salah satu pengusaha home stay di Moni ketika ditanya kehadiran mereka di pos tersebut.

Tobias menambahkan, “Tujuan dia dan teman-teman datang untuk mengetahui dengan jelas status gunung kelimutu, karena sejak dikeluarkannya pengumuman tanggal 4 juni lalu bahwa kelimutu berstatus waspada level dua, banyak turis asing yang cancel / batal datang ke Moni. Padahal sebelumnya mereka telah booking beberapa home stay untuk menginap di Moni. Jika keadaan ini berlangsung lama, maka tentu ini akan berakibat para tamu tidak lagi datang. Pada hal ini adalah ladang kami”. Tegas Tobias !!

Menanggapi kedatangan para pelaku wisata tersebut Gabriel Rago menjelaskan bahwa pengumuman status kelimutu tersebut berdasarkan instruksi langsung dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG yang berkedudukan di Bandung. Oleh karena itu kami bekerja sama dengan petugas Balai Taman Nasional / BTNK KELIMUTU menutup sementara jalur menuju puncak kelimutu.

Gabriel menambahkan, hal ini dilakukan demi menjaga kesehatan dan keselamatan pengunjung, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Ketika ditanya sampai kapan status waspada level dua kembali ke normal, Gabriel Rago petugas pengawas gunung api kelimutu mengungkapkan; “Pihaknya belum bisa pastikan karena ini fenomena alam”.

Diberitakan, sebelumnya gunung api kelimutu mengeluarkan asap tebal dari kawah danau koofai nuwa muri yang disertai bau belerang menyengat menyebabkan sebagian tanaman rerumputan mengalami kekeringan dan mulai mati.


Hingga saat ini, kondisi gunung api kelimutu masih bergejolak sehingga para wisatawan maupun warga setempat serta pelaku wisata belum diperbolehkan mendekati kawah gunung kelimutu. “Ungkap Gabriel”.

Gunung Api Kelimutu Naik Status Siaga II


Oleh: Marlin Bato,
Sumber; Aloysius Ngaga (Moni, Ende - Flores)

 
Jakarta, Sabtu 08/06/2013
Setelah 4 Juni lalu naik status waspada, kini gunung kelimutu kembali meningkatkan aktivitasnya menjadi status “Siaga II” mulai Jumat, 07/06/2013, pukul 09.00 - 20.30 Wita. Hal ini diungkapkan oleh pegawai pengamat Kelimutu Gabriel Rago kepada tim kami.


Gunung Kelimutu menunjukan agretivitas dan aktivitasnya sejak 24 mei lalu melalui pergantian warna secara signifikan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun wartawan yang meliput fenomena alam ini, sebab petugas pengawas melarang aktivitas warga maupun wisatawan agar menjauhi Gunung Kelimutu dalam radius 2 kilometer.

Dari hasil wawancara, Gabriel Rago menuturkan; Peningkatan aktivitas Gunung Kelimutu dapat terlihat dari;
① Perubahan warna air danau kawah tiwu ata polo dan tiwu koofai nuwa muri
② Tampak asap putih mengepul dari danau koofai nuwa muri
③ Terdengar bunyi desiran air sebelah selatan kawah tiwu koofai nuwa muri
④ Tercium bau gas/ belerang yang sangat menyengat
⑤ Terlihat sebelah selatan dan tenggara puncak dan di sekitar kawah gunung, banyak tumbuhan mulai layu dan mengering

“Bau gas belerang sangat menyengat di sekitar puncak, ini berbahaya untuk pengunjung. Sampai saat ini, gunung kelimutu tertutup untuk umum, tak ada satu pun warga yang boleh mendekati kawah tersebut”. Kata Gabriel.

Lebih lanjut, Gabriel mengharapkan agar masyarakat yang tinggal di dekat kawah, terutama wilayah selatan agar tidak melakukan aktivitas di lembah-lembah sungai yang berhulu dari puncak kawah gunung kelimutu. Hal ini sebagai bentuk kewaspadaan bilamana gunung api kelimutu makin meningkatkan aktivitasnya menjadi, “Siaga I”. Imbuhnya.

Berita ini diturunkan langsung dari kawah gunung api kelimutu. Oleh sebab itu belum ada petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG dari Kabupaten Ende yang menetapkan peningkatan status menjadi Siaga II. Namun dilihat dari peningkatan yang semakin agresif hingga Jumat 07/06/2013 pukul 20.30 Wita, dapat disimpulkan bahwa gunung api tersebut telah menunjukan peningkatan status dari waspada menjadi siaga II atas informasi langsung dari Petugas Pengawas Gunung Api Kelimutu, Gabriel Rago.

Sabtu, 04 Mei 2013

Resensi Novel: "SUCINYA CINTA SUNGAI GANGGA"


Oleh: Marlin Bato
Jakarta, 05/05/2013

Diluncurkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada Kamis, 2 Mei 2013 di Newseum Jl. Veteran 1.

Sebuah novel fiksi buah karya Halimah Munawir ini mengisahkan "Cinta Terlarang Antara Dua Remaja Belia", yang tanpa sengaja berujung pilu namun pada akhirnya berbalur kebahagiaan tiada akhir.

Di awal kisah Dhanny membesarkan puteri semata wayangnya dengan penuh cinta, sehingga menjadi seorang gadis nan rupawan. Ia menjadi ayah sekaligus ibu bagi sang gadis tersebut. Gadis itu bernama Key. Rambutnya yang hitam dan panjang terurai membuat semakin hari Key tumbuh sempurna menjadi anak yang cerdas. Ia adalah bintang disekolahnya. Hidupnya penuh bahagia, seperti tak kekurangan satupun. Namun diantara kebahagiaan yang didapatkan selama ini, terselip suatu rahasia yang sulit terungkap, ia kerap merindukan sosok seorang ibu dalam mimpi. Ia tak pernah tahu siapa sesungguhnya ibu kandungnya. Seringkali ia menanyakan sosok ibunya, namun ayahnya hanya berkata; "Ibu ada disurga", hal ini seolah meneguhkan keyakinanya bahwa ibu benar-benar ada di surga.

Novel setebal 217 halaman ini mengulas betapa "Sucinya Cinta Sungai Gangga", sehingga cinta yang hilang puluhan tahun silam dapat bersemi kembali dalam ikatan emosional kekeluargaan yang sangat erat. Yah... Keluarga Dhanny dan Rani tentunya!! Cinta Dhanny kepada Rani sang istri peranakkan India tanpa ragu, utuh penuh seluruh, sehingga membuat Dhanny tak dapat menerima cinta yang lain. Singkat cerita Dhanny mengenal Rani sejak kuliah di New Delhi. Keduanya harus berpisah berpuluh-puluh tahun lamanya karena berbeda prinsip. Namun pada sisi yang lain, Dhanny ternyata sangat merindukan sosok Rani. Kerinduan Dhanny kepada Rani, seibarat ruang penuh catatan yang tak akan pernah usai, seperti letupan-letupan vulkanik rindu yang mengalirkan magma cinta penuh hangat.

Daftar isi novel "Sucinya Sungai Gangga" tersebut antara lain;

1. Springhill Dan Sebuah Rahasia--
2. Elementary Mathematic International Competision--
3. Dilema Dalam Hati--
4. Sahabat Dari Negeri Hindustan--
5. Ibu Bernama Rani--
6. Tetangga Kamar 105--
7. Investigasi--
8. Bali, Island Of Love Having Magic Power--
9. Akhir Sebuah Misi--
10. Senyum Mentari--
11. You And Me--
12. Epilog--

Pada lembar kisah yang lain, ketika dalam suatu acara "Elementary Mathematic International Competision", Key di utus dari sekolahnya untuk mengikuti kompetisi tersebut yang diadakan di negeri India. Tak pelak, Key pun dipertemukan dengan Ram seorang pangeran tampan dari negeri Hindustan. Lambat laun Key pun jatuh cinta kepada Ram yang tanpa diketahui ternyata Ram adalah kakak kandungnya sendiri.

Hubungan kedua remaja inilah yang membuat Dhanny berang. Key lupa, betapa berharganya ia di mata Dhanny ayah kandungnya sendiri. Dhanny berusaha menjauhkan Key dari Ram tapi apa daya kekuatan cinta mereka terlalu dasyat sehingga memaksa Dhanny harus mempertemukan keduanya dengan ibunda mereka.

Di akhir kisah, Dhanny pun mengajak Key dan Ram bertemu Rani istrinya di negeri Hindustan dan mereka pun bersatu kembali dalam keutuhan mutiara kecil keluarga.

Meskipun bersifat fiksi, namun karya Halimah Munawir yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama ini dapat menjadi pelajaran berharga bahwa; "Memang kekuatan cinta sulit terbendung ketika hati telah terpaut. Cinta yang suci tak akan pernah dikalahkan, oleh maut sekalipun". Betapa, Cinta dari sungai gangga memang suci namun penuh liku.

Terimakasih! Semoga bermanfaat... Dapatkan Novelnya di Gramedia Terdekat!

Kamis, 28 Maret 2013

ANOMALI STIGMA PREMANISME PASCA INSIDEN JOGJA


Refleksi Kritis

Oleh: Marlin Bato
,

 Beberapa hari ini warga NTT diguncang rasa duka mendalam pasca insiden penyerangan di lapas Cebongan Sleman Jogjakarta. Betapa tidak, buntut penyerangan itu menyebabkan empat mahasiswa asal NTT pun harus meregang nyawa di ujung laras dari 17 serdadu bayangan. Motif dan indikasi penyerangan tersebut hingga kini menyisakan misteri seolah sulit terpecahkan. Tak pelak, sejumlah aksi solidaritas dan kecamam pun datang bertubi-tubi dari berbagai elemen, publik figur, pengamat politik maupun anggota DPR RI.

 Menohok peristiwa ini, muncul 2 pertanyaan yang berkecamuk dalam diri;

-Mengapa harus warga Indonesia Timur (NTT) yang jadi Korban brutalisme ke-17 serdadu??
-Sedemikian burukkah potret dan kiprah warga Indonesia Timur (NTT) di kancah Nusantara sehingga kerap distigmanegatfikan dengan isu premanisme??


Mari, kedua pertanyaan ini akan membawa kepada hakikat olah pikir agar pembaca diajak menerawang jauh kedepan sebelum mengambil sebuah spekulasi liar.

Pertama-tama, penulis mengawali dengan sebuah statement dari orang nomor satu Jogja, Sri Sultan HB X yang biasa disapa Ngarso Dalem; "Wahai warga pendatang, KALIAN ADALAH ANAK- ANAK KU JUGA, saya tidak menghendaki kalian menjadi orang Jawa, tetaplah menjadi orang NTT, orang MALUKU, orang BATAK, orang MADURA, ORANG PAPUA, orang BALI, orang DAYAK KALIMANTAN, orang MAKASAR, orang MANADO dan lainnya, TETAPI YANG BERPERILAKU BAIK. Kalian memiliki identitas sendiri yang dijamin Undang-undang, karena pendiri negeri ini mengakui adanya perbedaan yang adalah MODAL dan BUKAN SUMBER MASALAH. Jadikan Yogyakarta tempat yg indah damai tanpa kekerasan. YOGYAKARTA HADININGRAT MERUPAKAN KOTA BUDAYA YANG AMAN DAN NYAMAN".

Berpedoman dari statemen diatas, penulis mencoba mempersempit ruang lingkup, arah dan tujuan kepada masyarakat NTT sebab statemen ini muncul bersamaan dengan insiden 4 korban Jogja;

"Wahai warga pendatang, kalian anak-anak ku juga, saya tidak menghendaki kalian menjadi orang Jawa, tetaplah menjadi orang NTT yang berperilaku baik".

Kalimat ini dapat menjadi sebuah rujukan bahwa pernyataan Sri Sultan ini sangat bijak dan patut menjadi suri tauladan bagi semua warga NTT untuk berlaku baik. Beliau seorang pemimpin besar yang harus menjadi model bagi pemimpin republik ini untuk mengayomi 230 juta warga Indonesia. Tentu beliau paham betul bagaimana karakteristik, eksistensi dan sumbangsi masyarakat NTT, baik yang berdomisili di Jogja maupun di daerah lainnya.

Kemudian pada alinea berikut terdapat sebuah catatan penting yang tertulis; Pendiri negeri ini mengakui adanya perbedaan yang adalah MODAL dan BUKAN SUMBER MASALAH. Nah..... pada catatan ini, penulis menangkap sesuatu yang tersirat bahwa keberadaan dan perilaku warga NTT, baik di Jogja maupun di daerah lainnya perluh menjadi perhatian serius dari semua elemen, tokoh dan simpul-simpul masyarakat NTT dimanapun berada sehingga tidak menjadi sumber masalah. Ini merupakan sebuah pesan moral yang wajib menjadi amanat untuk meredam stigma kekerasan yang terpatri dalam karakter warga NTT, sehingga kelak kesan premanisme dapat berangsur lenyap.

Sebelum menjawab dua (2) pertanyaan diatas, penulis menguraikan sedikit latar belakang sejarah terkait eksistensi dan hegemoni para pendahulu asal NTT, yang merupakan tokoh perintis kemerdekaan Indonesia. Uraian ini sudah tentu akan berkorelasi dengan stigma maupun pernyataan Sultan tersebut diatas. Beberapa dekade yang lalu, terdapat beberapa deret nama yang turut berjuang dimedan perang melawan Kolonial Belanda yaitu; Mantan Gubernur NTT - Eltari, yang kini diabadikan sebagai nama bandara di Kupang. Laurens Say, kini nama beliau diabadikan sebagai nama pelabuhan Maumere (Sikka), L-Say, Paulus Wangge dan lain-lain. Tidak banyak yang mengetahui bahwa, nama-nama ini merupahkan tokoh pejuang yang mendukung pergerakan rakyat Jogja untuk bertempur melawan Belanda. Mereka merupakan laskar terdepan bertempur di medan perang. Mereka sangat bernyali, seperti generasi-generasi NTT yang sekarang. Sri Sultan tentu paham betul bagaimana jasah mereka terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada catatan sejarah yang berbeda, ketika Jepang menjajah Indonesia, Raja Lio (Pius Rasi Wangge) pun dikabarkan sempat mencari suaka politik (berlindung) di keraton Jogja karena beliau dikejar oleh Belanda dengan tuduhan berkolaborasi dengan penjajah Jepang.

Sejak jaman penjajahan Belanda, ratusan bahkan ribuan orang-orang dari Indonesia Timur dibawah ke Jawa untuk dilatih dan kemudian dijadikan serdadu-serdadu yang berada digaris depan bertempur melawan Belanda. Mereka dikenal sangat berani, didukung perawakan, kulit hitam, dan kebengisan serta tempramen yang keras, sehingga sejak saat itu pulalah stigma ini terus melekat hingga kini. Dari rentetan peristiwa -peristiwa sejarah tersebut diatas, penulis menangkap sebuah sinyalemen kuat bahwa sejak ratusan tahun yang lalu hubungan kekerabatan dan ikatan emosional antara keraton Jogja dengan para raja dan pejuang-pejuang se-Nusantara terbina sangat erat dan mesrah. Tidak heran, paham nasionalisme dan pancasilais pun kerap tumbuh dan berkembang di kota gudeg ini.

Nah.... Menjawab pertanyaan diatas, marilah sejenak merefresh masa lalu yang kelam kemudian disandingkan dengan stigma premanisme terkait peristiwa Jogja. Bagaimanapun juga tindakan-tindakan premanisme tidak dapat dibenarkan secara hukum. Hemat penulis, tindakan-tindakan kekerasan yang ditimbulkan oleh masyarakat NTT kini bahkan yang kerap distereotipkan dengan label premanisme tidak terlepas dari sejarah masa lalu, yang tanpa disadari menjadi kaca benggala bagi generasi sekarang.

Karena itu, perluh ada tahapan-tahapan proses regenerasi menyeluruh yang wajib digagas oleh kaum muda maupun tokoh-tokoh, bekerja sama dengan institusi pemerintahan daerah NTT untuk melakukan pembinaan moral, membangun mental dan karakter yang baik dan berbobot bagi generasi-generasi di daerah maupun di peratauan, sebab akar budaya kekerasan itu sangat erat berkoherensi dengan mental dan karakter. Agar kelak tidak terjadi degradasi moral yang menjadi bayang-bayang kelam (anomali) menuju jurang kehancuran terutama bagi generasi mendatang supaya mereka tidak kehilangan identitas dan jati diri seperti yang di ungkap oleh Sri Sultan diatas.


Salam Embun & Happy Easter........
Terimakasih, Semoga Bermanfaat!!

Senin, 11 Maret 2013

SEGREGASI KULTUR LIO KEDALAM ONDERAFDELING MAUMERE DAN ENDE

Foto tahun 1938: Kediaman Asisten Residen di Ende. (Sumber; Museum Trophen Belanda)

Oleh: Marlin Bato
Sumber:
-Longginus Diogo
-History Of Flores,
-Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT
-Sejarah Lokal NTT dan kabupaten SIKKA
-Pemberontakan Teka,
-Pelangi Sikka,
-Tuturan Lisan,

Setelah hengkangnya Hindia Belanda di tanah Flores, banyak sejarah samar yang hampir terlupakan oleh masyarakat Flores sendiri tentang bagaimana sejarah terbentuknya wilayah administratif kabupaten Sikka dan kabupaten Ende. Oleh karena itu, mengacu dari berbagai sumber maka penulis mencoba merangkum sebuah artikel yang segar dan layak dibaca agar kemudian dapat menjadi pengetahuan sejarah yang dapat diwarisi dari generasi ke generasi.

Sebagai pencerahan mukadima, penulis mengawali cuplikan singkat mengenai dasar historis keberadaan Hindia Belanda di tanah Flores. 1613 adalah tahun yang signifikan dalam sejarah Indonesia Timur. Sebuah armada Belanda di bawah komando Apollonius Scotte (atau Scot) berlayar melalui pulau-pulau. Sebelum tiba di Kupang, Scotte pergi ke Solor dan menyerang benteng di sana dan mengambilnya dari Portugis. Orang-orang Portugis, atau lebih tepatnya, disebut dengan 'Portugis Hitam' melarikan diri ke Larantuka, yang, sejak saat itu, menjadi pusat pendudukan dari Portugis hitam. Belanda pun menyerang Larantuka, tapi gagal untuk mengambil alih wilayah Larantuka.

Adrian van der Velden, wakil komandan Scotte, pergi ke Ende, dan menemukan kehancuran benteng Rendo Rate Rua karena telah dibakar oleh para Bajak Laut yang disinyalir kiriman dari Jawa. Kehadiran Belanda kala itu sangat mengganggu Portugis yang sudah menguasai wilayah Solor sejak tahun 1562, sehingga terjadi pertempuran - pertempuran sengit antara kedua negara penjajah ini. Pertempuran demi pertempuran terus terjadi, sampai akhirnya Hindia Belanda berhasil menancapkan eksistensi dan dominasinya setelah muncul kesepakatan Lisabon tahun 1859 untuk mengakhiri sengketa kedua negara. Dalam perjanjian ini, Portugis menyerahkan sepenuhnya wilayah Flores, Timor dan sekitarnya dibawah kendali Hindia Belanda, tidak termasuk Timor Timur (sekarang Timor Leste). Untuk meneguhkan perjanjian ini, Belanda wajib membayar Upeti kepada Portugis sebesar 80.000 Gulden.

Perlahan tapi pasti, Kolonial Belanda kian memperlihatkan dominasinya lewat agresi-agresi militer ke berbagai wilayah Flores dan sekitarnya, hingga akhirnya berhasil menaklukan pemberontakan Teka Iku pada tahun 1885 di Sikka (Maumere).

Sebelum kedatangan Portugis dan Belanda, wilayah Flores telah berdiri kerajaan-kerajaan kecil diantaranya; Kerajaan Adonara, Kerajaan Larantuka, Kerajaan Kangae (Sikka), Kerajaan Ende, Kerajaan Manggarai. Kemudian Portugis mendirikan Kerajaan Nita pada tahun 1600-an.

Di Ende, Kerajaan Ende sudah berdiri sekitar tahun 1400-an dengan raja pertamanya adalah; Djari Jawa yang disebut juga Raja Harun asal Jawa. Atas dukungan Kerajaan Gowa dan Bima, eksistensi kerajaan Ende sangat kuat sehingga hubungan kerajaan Ende dan Bima semakin mesrah sampai kepada masa kepemimpinan Raja Indra Dewa. Wilayah ini kerap terjadi basis peperangan antara Portugis dengan laskar kerajaan Bima dan Gowa untuk merebut pengaruh di Ende.

Meski kerajaan Ende sudah berdiri, namun raja Ende belum mampu melakukan ekspansi hingga ke wilayah-wilayah Lio yang masih kuat dengan sistem kepemimpinan kolektif kolegial yang meletakkan kekuatan spiritual pimpinan tertingginya pada mosalaki. Hingga pada tahun 1907 wilayah Lio mulai tersentuh oleh pengaruh Belanda yang mendirikan kerajaan Tanah Kunu Lima (LIO) pada tahun 1914 yang kemudian diresmihkan tahun 1917 dibawah pemerintahan Raja Pius Rasi Wangge-. Kendati demikian, sebagaian besar wilayah Lio diantaranya; Mego, Mbengu, Lekeba'i, Nanga Blo, dan sekitarnya telah diklaim secara "de facto" masuk wilayah Maumere oleh Belanda dibawah kendali Kerajaan Kangae.

Menurut catatan sejarah Kerajaan Kangae adalah sebuah kerajaan tradisional, yang didirikan oleh Moa Bemu Aja, seorang keturunan Rae Raja asal dari Banggala-Siam Umalaju (Bangladesh) sekitar tahun 900. Wilayahnya mencakup wilayah Hook Hewer Kringa, Werang, Doreng, Waigete, Wolokoli, Hewokloang, Ili, Wetakara, Nele, Koting dan Nita, atau disebut Nulan Ular Tana Loran. Kerajaan Kangae mencatat 38 Raja Adat dan seorang Raja Koloni Belanda yakni Ratu Nai Juje (1902-1925).

Wilayah Maumere, Lio (Sikka) dan Palue masuk Kerajaan Maumere pada tahun 1902. Asumsi ini bersumber dari beberapa referensi "buku Sejarah Lokal NTT dan kabupaten SIKKA", dan Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT, Pemberontakan Teka, Pelangi Sikka dan lain sebagainya:

Kontrak Korte Verklaring;
Pada tahun 1735 Belanda sudah mengadakan perjanjian dengan raja-raja kecil di Timor, Solor, dan Sumba, untuk monopoli dagang Belanda dan juga mengakui kedaulatan Belanda. Usaha itu terus di lanjutkan secara berkesinambungan sehingga dari tahun 1900-1927 telah terjadi 73 buah kontrak korte verklaring, dengan raja-raja kecil, antara lain kerajaan kangae yang di buat pada tanggal 8 desember 1902. Imbas dari kontrak korte Verklaring dengan Raja Kangae ini tersirat adanya kaitan dengan perubahan wilayah kerajaan, yang dibarengi dengan kesepakatan perbatasan antara wilayah Onderafdeling yaitu Onderafdeling Maumere-Ende dan Maumere-Flores timur yang terurai sbb :

Perbatasan Onderafdeling Maumere- Flores Timur;
Dalam kesepakatan ini terjadi perubahan wilayah yaitu wilayah Muhan dari kerajaan Larantuka (Flores Timur) dimasukan ke dalam kerajaan Kangae (Maumere). Sedangkan wilayah Hewa dari kerajaan Kangae (Maumere) dimasukan ke Kerajaan Larantuka.

Perbatasan Onderafdeling Maumere-Ende
Dalam kesepakatan ini terjadi perubahan wilayah yaitu wilayah Palue, Bu-Mbengu (Paga), Mego Wena (Lekebai) ditarik dari kerajaan Lio (Ende) dan dimasukan ke kerajaan Sikka (Maumere). Wilayah Mego Wawo (Magepanda) di tarik dari kerajaan Lio (Ende) dan di masukan ke dalam kerajaan Nita (Maumere).

Perluasan Wilayah Kerajaan Sikka
Kerajaan Sikka dan kerajaan Nita sudah menjadi wilayah Koloni Belanda sejak 11 September 1885. Ketika itu wilayah kerajaan Sikka meliputi wilayah Sikka-Lela, Nele, dan Koting. Kerajaan Nita hanya meliputi wilayah Adat Nita
Kesepakatan perbatasan dan korte verklaring 1902 memperluas wilayah Kerajaan Sikka. Wilayah Doreng, Wolokoli dan Hubin ditarik dari kerajaan Kangae dan di masukan ke kerajaan Sikka. Wilayah Bu – Mbengu, Mego Wena, dan Palue ditarik dari Kerajaan Lio (Ende) dan masuk kerajaan Sikka.

Adanya Peta Wilayah Maumere Pada Masa Teka
Broeder Petrus Laan SVD pada tahun 1904 menulis sejarah Pemberontakan Teka, dengan melampirkan PETA WILAYAH MAUMERE PADA MASA TEKA. Peta ini memperlihatkan Wilayah Onderafdeling Ende pada Sebelah Barat. Onderafdeling Maumere mencakup 3 wilayah kerajaan yaitu, Sikka, Nita dan Kangae, posisinya seperti uraian tersebut di atas.

Berdasarkan data-data sejarah tersebut di atas inilah yang dapat menjadi pegangan bahwa Lio, Palue, dan Muhan telah masuk Onderafdeling Maumere pada tahun 1902. Lio telah menyatu dengan Maumere, berupa etnisitasnya, wilayah kesatuan adatnya, budayanya, dan tata kemasyarakatnya, terhitung sampai 2013 berarti sudah selama 111 tahun.

Terimah Kasih. Semoga bermanfaat!!

Senin, 07 Januari 2013

UPACARA MASUK RUMAH BARU: PERSEMAIAN PARA LELUHUR


(Tage Tangi Nai Sa'o - Poto Watu Wisu Lulu)

~Peresmian Rumah Utama Adat Lio Anjungan NTT - TMII~
Jakarta, 06 Januari 2013
Oleh: Marlin Bato


~ Jumat, 28 Desember 2012 lalu, suasana Anjungan NTT tampak ramai, tak seperti biasa yang selalu sepi dari pengunjung. Betapa tidak, hari itu adalah hari di mana momentum peresmian rumah utama adat Lio. Segenap warga Ende - Lio tumpah rua di pelataran rumah adat Lio yang baru di bangun sejak setahun yang lalu. Rumah yang berdiri megah tersebut, sejatinya adalah dibangun dengan dana yang digelontorkan oleh Pemkab Ende dan Pemda NTT senilai kurang lebih 6,5 Miliar dengan asumsi 3 miliar merupakan sumbangan dari Pemkab Ende serta sisanya di tanggung oleh Pemda NTT.

Proses pengerjaan rumah tersebut di awali dengan sentuhan magis yaitu; "Ritual Koe Kolu" (peletakan batu pertama) oleh Bertoldus Lalo, Kepala Perwakilan NTT di Jakarta & Drs. Don Bosco Wangge. M. Si Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ende serta di pimpin langsung oleh Yulius Balu beserta Mikael Tani Wangge.

Konstruksi rumah adat tersebut memiliki corak yang agak berbeda meski pun ada kesamaan filosofis. Jika biasanya sebuah rumah adat Lio berbentuk panggung, namun tidak dengan rumah adat ini. Pasalnya, rumah tersebut di konstruksi bertingkat tiga dengan klasifikasi sebagai berikut;

- Lantai 1 yang seharusnya di buat kolong (Lewu) tetapi di buat sekat ruang agar bisa dimanfaatkan sebagai tempat istirahat.
- Lantai 2 merupakan ruang temu (maga/tenda) sebagaimana adalah tempat musyarawa seluruh lintas masyarakat NTT.
- Lantai 3 adalah tempat penyimpanan "watu nitu" simbol dari "wisu lulu" yang merupakan persemayaman roh para leluhur.

Dalam tradisi Lio, fungsi rumah biasa sangat berbeda dengan rumah adat. Rumah biasa merupakan tempat tinggal sel-sel terkecil terdiri atas Ibu, Bapak, Anak, dll. Sedangkan rumah adat atau disebut "Sa'o Ria Tenda Bewa" mempunyai filosofi tersendiri yang berfungsi selain untuk tempat tinggal juga sebagai tempat perkawinan kosmic antara "Du'a Lulu Wula dan Ngga'e Wena Tana" (wujud tertinggi dan ibu bumi). Karena itu, rumah adat merupakan pralambang Kesuburan dan kelahiran yang menyimbolkan rahim wanita.

Biasanya, setiap rumah adat Lio di hiasi dengan ukiran-ukiran beraneka ragam, misalnya di sekitar tangga, pintu dan kayu palang di ukir dengan corak ular, panah, kalajengking, kuda, vulva (alat kelamin wanita) dan sebagainya.

Rumah utama adat Lio di Anjungan NTT merupakan simbolisasi dari rumah adat yang sesungguhnya. Oleh karenanya, jika di lihat dari depan, tampak atap melengkung yang di topang tiang "mangu" (penyangga utama) yang dilengkapi 7 anak tangga & 9 pijakan untuk menggenapi dogma para leluhur seperti terungkap; -Du'a Lulu Wula, Wa'u No'o Tangi Su'a Teda Lima Rua - Ngga'e Wena Tana Nai No'o Tangi Gela, Teda Tere'esa. Artinya; Wujud tertinggi dari tingkap langit turun melalui tujuh anak tangga dan Ibu bumi naik melalui sembilan pijakan).

Di depan rumah utama Adat Lio Anjungan NTT, terdapat tiang batu yang berdiri menjulang di tengah-tengah halaman. Batu itu lonjong berbentuk seperti alat kelamin laki-laki disebut; "Tubu Musu/Musu Mase'. Tubu musu/musu mase harus di tanam ditengah lapangan dan berdiri kokoh, ujungnya mengarah ke langit, "Soke Fore Mbedo Liru - Seka Bega Tama Tana" (Tertanam di bumi dan menembusi langit). Kalimat tersebut merupakan bentuk perkawinan kosmic secara nyata. Batu 'tubu musu' merupakan simbol laki-laki, simbol keperkasaan kejantanan para pria. Menurut tuturan lisan, di setiap rumah adat Lio harus dilengkapi "Tubu Musu/Musu mase", sehingga bersamaan dengan itu, muncul pula sebuah adagium; "Wisu Neku Gheta One - Watu Neku Ghale Sia" yang berarti; (Wisu) yang menjadi tempat persemayaman di dalam rumah adat dan Batu (watu) yang menjadi hak kesulunganku berada di luar. Kalimat ini merupakan pengklaiman diri yang menunjukan eksistensi dan kedaulatan seorang pemimpin adat (Mosalaki) dan merupakan bukti otentik kebesaran yang tak dapat di tampik.

Upacara ritual "Poto Watu Nitu" di Anjungan NTT di awali dengan tarian Wa'e Woge yang di tampilkan oleh srikandi-srikandi dan ksatria-ksatria asal Ende Lio yang terkolaborasi antara komunitas Sanggar Sokoria Voice dengan Forgema (Forum Generasi Ende Muda) serta di isi dengan Bhea (pekik) dan sua seru (doa) oleh Yulius Balu. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi singkat dari rumah adat Sumba menuju rumah utama adat Lio sambil membawah batu ceper (watu nitu) yang kemudian ditempatkan di "Wisu Lulu/tempat persemayaman" dan diberi saji-sajian berupa darah ayam, nasi, siri pinang, arak, tembakau dan sebagainya.

Setelah menyelesaikan ritual "poto watu", upacara dilanjutkan dengan pemberian sesajen pada batu 'Tubu musu' di halaman rumah adat sambil mendaraskan doa-doa dalam bahasa Lio kepada leluhur. Selepasnya, ritual adat tersebut di tutup dengan tarian gawi, pratanda acara telah selesai. Gawi merupakan tarian syukuran yang wajib di lakukan dalam ritual-ritual penting adat Lio. Secara etimologi, tarian gawi merupakan wujud syukur dan doa yang ditandaskan melalui gerak magis, sehingga sang pesodha (penyair) melantukan alun kidung sebagai ungkapan penyerahan diri secara utuh lewat nada-nada diatonis. Syair-syair gawi menceritakan kisah-kisah, dan petuah-petuah yang harus ditatati masyarakat penganutnya, sehingga masyarakat Lio menjadikan syair gawi sebagai kitab-kitab lisan, pedoman hidup dengan keyakinan totalitas tanpa ragu, mutlak - utuh penuh seluruh.


Sekian, dan terimakasih! Semoga bermanfaat...

PROVINSI FLORES: SENTIMEN EGOCENTRIS ??


Oleh: Marlin Bato

Jakarta, 03/01/2013 - Beberapa hari terakhir ini sejak tahun 2004 isu pemekaran provinsi Flores cukup menyita perhatian bahkan kian santer dan sempat memanas, namun sempat juga direduksi oleh berbagai kepentingan politis egocentris. Dalam kurun berapa tahun terakhir, hampir semua media NTT maupun media nasional menyoroti wacana pemekaran Provinsi Flores. Kendati demikian, issue pemekaran Provinsi Flores kemudian mewabah dan menimbulkan efek domino memproduksi antek-antek protagonis maupun antagonis yang mana issue tersebut membawah masyarakat NTT terjebak dalam atmosfir yang kurang bersahabat antara satu dan lainnya. Semua orang Flores kala itu bahkan merasa cerdas, merasa seperti manusia paling super dan paling hebat dengan dalil-dalil argumen yang sebetulnya sangat kontraproduktif. Yang lebih menyedikan lagi, issue ini justru malah menimbulkan sentimen primordial antar kabupaten-kabupaten di Flores, bahkan ekses yang ditimbulkan pun merangsek ke pulau-pulau lain seperti Sumba, Timor dan Alor.

Jika dicermati, issue ini memang belum berdampak luas pada perpecahan dan pemisahan diri sehingga rasa kesatuan pun belum terkoyak secara utuh. Namun tanpa disadari keutuhan yang dibangun sekian lama dengan slogan "Flobamora" yang selalu di dengungkan kian runtuh sedikit-demi sedikit, ibarat pepata; "Nila setitik - Rusak susu sebelanga". Hal inilah yang seharusnya dijadikan refleksi kritis bagi masyarakat NTT seluruhnya.

Dari tinjauan historis, meski sangat gencar dibahas dalam beberapa tahun belakangan, wacana pembentukan Provinsi Flores bukanlah sesuatu yang baru muncul pada era reformasi. Menurut catatan sejarah, antara tahun 1950 hingga 1958, pulau Flores merupakan bagian dari Provinsi Sunda Kecil yaitu sebuah provinsi yang meliputi kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi tersebut terbentuk oleh PP No.21/1950 atas dasar UU No.22/1948.

Sejatinya, gagasan pembentukan Provinsi Flores sudah muncul bersamaan dengan pembentukan provinsi Nusa Tenggara Timur yang dikemukakan oleh Partai Katolik di Flores dalam konferensi partai di Nele (Sikka) pertengahan Mei tahun 1956. Pada waktu itu, Partai Katholik Flores sangat gigih berjuang ingin membentuk Provinsi Flores, karena dasar pertimbangan bahwa Partai Katolik menang mutlak di Flores. Akan tetapi, gagasan Konferensi tersebut ditentang oleh delegasi Komisariat Partai Katolik Timor yang dipimpin oleh Frans Sales Lega, dengan argumentasi: “Mengapa tidak bergabung dengan Timor dan Sumba, dengan golongan Protestan”.

Dan kemudian, Konferensi batal untuk memutuskan status “Gagasan Provinsi Flores”, tapi isu tersebut muncul lagi dalam konferensi Partai Katolik berikutnya di Ende Bulan Juni tahun 1957. Kendati demikian, Frans Sales Lega tetap pada pendiriannya. Sebaliknya ia mengangkat usul alternatif yakni membentuk sebuah propinsi untuk seluruh bekas karesidenan Timor yang terdiri dari Timor, Flores, Sumba dan Sumbawa dan pulau-pulau sekitarnya yang dikenal dengan sebutan "Flobamora".

Tidak dapat di pungkiri, peran Ende sangat strategis pada waktu itu. Jika saja, pemerintah dan stakeholder Ende dapat mengambil satu sikap tegas untuk mendukung Provinsi Flores, bukan tidak mungkin Provinsi Flores sudah terbentuk dengan ibukota Provinsi berada di Ende karena Ende merupakan kota yang jauh lebih berkembang di banding kota-kota lain di Flores. Pertimbangan lain, bahwa Ende juga merupakan kota Pancasila tempat Bung Karno menggali "Lima Butir Mutiara". Salah satu bukti otentik bahwa Ende terletak pada kawasan paling strategis adalah adanya monumen "NOL" kilometer Flores di lapangan Perse Ende yang di tetapkan semasa pemerintahan Hindia Belanda. Perhitungan Nol kilometer tersebut di mulai dari Ende menuju ke ujung timur Flores hingga Larantuka (Flores Timur) dan hingga ujung barat ke Flores (Labuan Bajo), karena itu muncul pula sebuah ungkapan adagium Lio; "Ulu Gheta Krowe Jawa - Eko Ghale Loka Lambo", artinya: Hulu (Kepala) di Flores Timur - Hilir (Ekor) di Labuan Bajou. Sumber; Buku Nusa Nipa karangan Pastor Piet Petu, SVD.

Gagasan provinsi Flores terus bergulir meski status Flores telah masuk menjadi Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun akhirnya di penghujung tahun 1960 meredup setelah muncul gerakan-gerakan kudeta di Jakarta dan pergantian tampuk kepemimpinan kepada Soeharto yang menerapkan sistem pemerintahan sentralistik.

Pada hakikatnya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi daerah dan pemekaran wilayah memberikan peluang untuk mendukung berdirinya Provinsi Flores karena secara geografis Flores sangat layak untuk membentuk Provinsi sendiri. Namun hingga kini hal itu belum dapat direalisasikan karena faktor "Egocentris" antar tokoh lintas Flores dan pemimpin daerah sangat kental. Terjadinya tarik menarik mengenai Ibukota Provinsi inilah yang menjadi akar persoalan tertundanya pembentukan Provinsi Flores. Kegamangan-kegamangan kerap terjadi dibenak semua pihak, mereka seperti takut kehilangan pengaruh.

Pada tataran normatif, kebijakan pemekaran provinsi seharusnya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Namun, kepentingan politik seringkali lebih dominan. Ironisnya, rencana proses pemekaran daerah Flores pun membuka peluang sebagai ajang bisnis politik dan uang. Akibatnya, peluasan daerah pemekaran terhambat dan diwarnai indikasi KKN.

Merujuk pada UU No. 32 tahun 2004 tersebut, seyogyanya seluruh petinggi-petinggi Flores harus duduk bersama, harus pula menanggalkan kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi dan ego wilayah maupun kepentingan politik dan uang. Flores merupakan miniatur Indonesia, karena itu seluruh elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan Flores pun harus di libatkan dalam rencana ini, sebab tanpa dukungan yang kuat, gagasan pembentukan Flores ibarat duri dalam sekam yang akan menjadi Bom waktu dan akan menghancurkan seluruh tatanan ikatan emosional kekerabatan masyarakat Flores sendiri.

Rencana pembentukan Provinsi Flores seharusnya di awali dengan pembuatan Grand Desain & Master Plan kawasan Flores agar semua kepentingan dapat terakomodir dengan baik. Ibarat pembagian kue, seluruh kabupaten harus diberikan peluang yang sama untuk memajukan daerahnya. Sebagai ilustrasi; Dalam pembuatan Grand Desain - Sebelum menetapkan Ibukota Provinsi, masing-masing kabupaten harus menyodorkan produk unggulan atau mempresentasikan potensi yang dimiliki daerahnya. Misalnya; Kab. Manggarai menjadi Kabupaten Wisata, seluruh rangkaian kegiatan Pemprov yang berkaitan dengan pariwisata harus difocuskan di Manggarai saja. Kabupaten Ngada & Nagekeo harus dikembangkan sebagai pintu gerbang Flores melalui pembukaan Bandara Internasional sehingga semua rute penerbangan Internasional maupun domestik harus melalui Nagekeo. Kabupaten Ende, harus menjadi kota Pancasila atau kota administratif begitu pula Kab. Sikka sebagai kota perdagangan dan Flores Timur sebagai Kota Religi, sehingga semua aktifitas yang berkaitan dengan poin-poin tersebut akan berkonsentrasi pada masing-masing Kabupaten. Jika konsep tersebut dapat direalisasikan niscaya: Provinsi Flores pun dapat segera terbentuk.

Terimakasih, semoga bermanfaat!!

Minggu, 23 Desember 2012

SINDROM KEMOSALAKIAN



Oleh: Marlin Bato,


Jakarta, 24 Desember 2012-
Akhir-akhir ini hampir sebagian wilayah Ende Lio Flores NTT kerap terjadi konflik komunal diantara petinggi-petinggi adat setempat. Konflik tersebut timbul oleh karena berbagai faktor, misalnya; Kasus tapal batas, Kasus pengklaiman kemosalakian, kasus hak kesulungan, hak alih waris dan sebagainya. Kasus yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah kasus pengklaiman hak kemosalakian dan hak kesulungan. Potret-potret semacam ini terjadi persis seperti politik; "Devide Et Impera" yang dilancarkan Belanda era penjajahan. Rupanya politik "Devide et Impera" masih sangat relevan diterapkan di era globalisasi ini.

Sejarah masyarakat Ende Lio pada umumnya, pernah mengalami masa transisi paling fundamental dimana tahun 1900-an masuknya Hindia Belanda ke wilayah Ende Lio turut berperan secara tidak langsung mengubah tata dan sistem adat menjadi sistem pemerintahan monarki heredetis. Kendati demikian, ekses dari sistem pemerintahan monarki heredetis tentu mempunyai sisi positif yang menjadi polarisasi faktual menuju keutuhan sebuah kebudayaan. Akan tetapi, tanpa disadari, Belanda telah memainkan genderang hegemoninya melalui "Devide Et Impera" untuk mengumpulkan upeti, sehingga muncul pula konflik-konflik horisontal pada masa itu seperti halnya; terjadinya segregasi kekerabatan kultur Ende Lio melalui Perang Baranuri dan Perang Marilonga. Rupanya, setelah hengkangnya Belanda dari bumi Ende Lio pergumulan - pergumulan "Devide Et Impera" terus berlangsung hingga kini.

Ekses yang paling menonjol berkaitan dengan politik Devide Et Impera adalah munculnya kasus tapal batas dan kasus pengklaiman hak kemosalakian sebab beberapa individu (golongan) yang pernah dibesarkan oleh Belanda merasa diri paling berpengaruh sehingga mereka ingin tetap menetapkan pilar eksistensi bersifat egocentris diwilayahnya. Wajar saja, struktur fungsionaris kemosalakian yang sudah tertanam berabad-abad silam pun turut terkoyak oleh ulah mereka. Sebuah pepata Lio mengatakan; "Ana Nia Welu Longgo-Ana Longgo Welu Nia (Anak belakang ditaruh depan, sedangkan anak depan ditaruh belakang". Tak pelak, seseorang yang tadinya berada di posisi belakang merasa diri sebagai mosalaki, sementara anak yang tadinya mosalaki pun merasa di sisikan sehingga timbul pula kontradiksi diantara kedua kubu, seperti contoh kasus di kampung Ndu'a Ria beberapa waktu yang lalu.

Di sisi lain, munculnya sindrom kemosalakian bukan semata-mata disebabkan oleh karena kasus diatas, tapi karena ada kesempatan. Kesempatan dimana hilangnnya legitimasi seorang mosalaki yang dipetuankan oleh kerabatnya (klen) sendiri. Mereka lupa meletakkan jiwa kepemimpinan mereka yang sejatinya adalah sebagai pengayom dan pelindung. Munculnya figur-figur muda paternalisme (mosalaki) pengganti generasi terdahulu pun menjadi faktor utama lemahnya eksistensi mereka. Mereka kurang memahami sejarah tuturan lisan dan riwayat kemosalakian yang dimiliki, lantaran kemunculan mereka pun bersifat karbitan. Sehingga, keberadaan mereka sebagai pemimpin adat pun rancuh, bahkan kurang mendapat tempat dihati kerabatnya sendiri.

Sesunguhnya hakikat seorang mosalaki adalah; personifikasi serta manifestasi antara wujud tertinggi dengan alam/Du'a Lulu Wula - Ngga'e Wena Tana, sebab ia merupakan reinkarnasi roh para leluhur sebagai wujud nyata penyambung kemaslahatan hidup orang banyak. Oleh Karena itu, seorang mosalaki harus bisa menyatukan diri bersama kedua unsur tersebut seperti ungkapan; "Mosa Eo Ka Fara No'o Tana - Laki Eo Pesa Bela No'o Watu". Tugas dan tanggung jawab mosalaki adalah memberi penghidupan dan keselamatan bagi orang banyak melalui doa-doa perkawinan kosmic bumi dan langit yang dipanjatkan kepada wujud tertinggi agar memberikan kesuburan, hujan yang cukup. Hal inilah yang kurang dimengerti oleh kebanyakan mosalaki.

Kurangnya pemahaman mosalaki terhadap tradisi dan budaya juga merupakan nokta hitam penyebab kacaunya ritus-rius adat, dimana kebiasaan-kebiasaan masa lampau direduksi lalu lekang dibawah kaki sang waktu, sehingga alam seakan murkah dengan segala bentuk perbuatan manusia. Tidak heran, sindrom kemosalakian bermunculan dimana-mana oleh kekuatan materi, karena sang mosalaki sendiri pun tak sanggup menjamin penghidupan orang banyak. Satu-satunya jalan yang paling sempurna untuk mengatasi ini semua adalah menggalang kekuatan penyeimbang, meretas lintas batas dalam satu paguyuban untuk mengembalikan legitimasi serta bargaining position sang mosalaki itu sendiri.

Sabtu, 22 Desember 2012

SEWA KONTRAK KURSI ENDE 1 & DPRD UNTUK 5 TAHUN



Oleh: Marlin Bato
Penulis adalah pemerhati dusun terpencil



Jakarta, 23 Desember 2012,
Wajah Ende, kian suram oleh kedigdayaan segelintir orang yang ingin mempertahankan hegemoninya. Betapa tidak, Ende yang dahulu sangat bersahaja kini sirna oleh kaum-kaum hedonis, yang hanya ingin memperkaya diri. Akibatnya, wajah Ende kini hampir tanpa bentuk, tanpa arah dan tujuan yang jelas, sehingga belenggu kemiskinan kian erat mengekal. Pertarungan politik lokal yang kurang sehat dan harmonis menjadi pemicu utama terjadinya sebuah sindrom kemelaratan kaum jelata.

Ibarat sebuah pepata; "Gajah Bertarung, Pelanduk Mati Di Tengah". Kalimat itulah yang sangat cocok untuk menyebut kehidupan masyarakat dan panasnya iklim politik Ende saat ini. Meskipun pilkada Ende masih terbilang jauh, namun friksi dan kontradiksi diantara setiap kubu dibawah kendali gerbong parpol sudah sangat nampak. Bahkan saling menyudutkan satu sama lain, sembari membeberkan kelemahan dan kelebihan masing-masing pihak. Sungguh ironis, jika para stakeholder mempertontonkan perilaku politik yang kurang santun kepada kaum mudanya sendiri.

Berkaca dari potret saat ini, terjadinya stagnasi kemajuan Ende, mestinya harus dijadikan acuan untuk menyamakan persepsi, visi, misi dan program setiap kontestasi yang akan maju sebagai wakil rakyat sehingga kebutuhan-kebutuhan rakyat akan terjawab dengan baik. Semua pihak harus duduk bersama, rembuk bersama, bagaimana mendorong pemerintah untuk bekerja secara maksimal kendati harus mengakomodir kepentingan semua pihak terkait. Hal ini yang tidak dilakukan petinggi-petinggi Ende saat ini. Tongkat estafet dan tampuk kepemimpinan pun dilanjutkan dengan cara yang berbeda sehingga ada kecenderungan, proses pergantian pemimpin pun lenyap bersama visi, misi dan program yang telah dicanangkan selama lima (5) tahun.

Jika sistem politik dan pemerintahan yang tidak bersifat estafet "The Main Relay Idea - Master Plan", sudah tentu akan terjadi stagnasi kemajuan disegala aspek kehidupan masyarakat Ende. Sadar atau tidak "tongkat estafet" itu harus diberikan secara sistematis, sehingga alur pembangunan disegala sektor pun akan tersentuh dengan baik. Dalam kacamata penulis, wajah Ende saat ini, tak ubahnya seperti sebuah adagium Raja Luis dari Spanyol yaitu; "Negara Adalah Aku", yang jika disederhanakan lagi menjadi "Ende Adalah Aku". Bermula dari adagium inilah yang membuat Raja Luis menjadi pongah dan dibenci rakyatnya, karena ia merasa dirinya paling kuat dari kekuatan rakyatnya sendiri.

Melihat fenomena-fenomena tersebut diatas, penulis beranggapan bahwa ada baiknya "Kursi Ende 1 dan Kursi Dewan-Dewan terhormat disewakontrakan kepada pemikir-pemikir ulung yang berdomisili diluar Ende dengan ide-ide besar serta nalarisasi yang segar, agar pembangunan Kab. Ende murni untuk kemaslahatan rakyat tanpa embel-embel untuk memperkaya diri.

Karena itu, dalam kesempatan ini penulis mencoba mempropagandakan - Sewa Kontrak Kursi Ende 1 & DPRD Ende buat para pencari kursi empuk yang berdomisili di luar Ende dengan harga relatif murah dan terjangkau dalam jangkah 5 tahun. Setiap peserta dapat memperoleh banyak perbandingan sebelum menyewa kursi tersebut. Cara ini merupakan media info ini cukup efektif sebab terdapat banyak kejanggalan-kejanggalan dengan wajah Ende saat ini. Propaganda ini, menjadi kewajiban penulis untuk mengubah Ende secara perlahan, masif namun terencana. "Daya Hening Upaya Juang". Salam Embun!!!

Sabtu, 15 Desember 2012

KILAS BALIK NEGARA INDONESIA TIMUR


Gambar 1: Bendera NIT
Gambar 2: Presiden Soekowati bersama istri
Oleh: Marlin Bato

"Tepat 66 tahun yang lalu, telah terjadi muktamar luar biasa oleh raja-raja se-Indonesia Timur di Denpasar pada tanggal 07 - 24 Desember 1946 yang menghasilkan kesepakatan untuk membentuk NIT (Negara Indonesia Timur). Setelah menghasilkan kesepakatan, bendera "Negara Indonesia Timur" pun dikibarkan".

Negara Indonesia Timur merupakan negara bagian Republik Indonesia Serikat yang pada masa itu dibentuk atas dukungan Belanda dengan batas demografi meliputi wilayah Sulawesi, Sunda Kecil [Bali dan Nusa Tenggara] dan Kepulauan Maluku. Ibukota Negara Indonesia Timur adalah Singaraja. Negara Indonesia Timur dibentuk berdasarkan Konferensi Malino pada tanggal 16-22 Juli 1946 dan muktamar Denpasar dari tanggal 7-24 Desember 1946 yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya negara bagian tersendiri di wilayah Indonesia bagian timur oleh Belanda.

Pada mulanya, sesuai Konferensi Denpasar 24 Desember 1946, negara yang baru dibentuk tersebut di beri nama "Negara Timur Besar", namun kemudian pada tanggal 27 Desember 1946 diganti dengan nama Negara Indonesia Timur. Muktamar tersebut juga telah menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa Negara Indonesia Timur meliputi 13 daerah otonom setingkat Kabupaten (affdeeling) dengan 5 kota keresidenan setingkat provinsi seperti termaktub dalam Staatsblad 1938 nomor 68 jo Staatsblad nomor 264, kecuali Irian Barat, yang akan ditetapkan kemudian hari:

1.Daerah Sulawesi Selatan
2. Daerah Minahassa
3. Daerah Kepulauan Sangihe dan Talaud
4. Daerah Sulawesi Utara
5. Daerah Sulawesi Tengah
6. Daerah Bali
7. Daerah Lombok
8. Daerah Sumbawa
9. Daerah Flores
10. Daerah Sumba
11. Daerah Timor dan kepulauan
12. Daerah Maluku Selatan
13. Daerah Maluku Utara

1. Karesidenan Sulawesi Selatan
2. Karesidenan Sulawesi Utara
3. Karesidenan Bali
4. Karesidenan Lombok
5. Karesidenan Maluku

Pada waktu itu, atas hegemoni Belanda, Negara Indonesia Timur didirikan untuk menyaingi dan memaksa Republik Indonesia untuk menerima bentuk negara federasi; dengan tujuan mengecilkan wilayah Republik Indonesia sehingga hanya menjadi salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat. Namun akhirnya Negara Indonesia Timur bubar dan semua wilayahnya melebur ke dalam Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950 setelah terjadi kesepakatan antar raja-raja dan lintas tokoh nusantara di Jogja.

Presiden
24 Des 1946 - 17 Agu 1950 - Tjokorda Gde Raka Soekawati,


Kabinet dan Perdana Menteri

- 13 Jan 1947 - 02 Jun 1947 - Nadjamoedin Daeng Malewa - Kabinet Pertama
- 02 Jun 1947 - 11 Okt 1947 - Nadjamoedin Daeng Malewa - Kabinet Kedua
- 11 Okt 1947 - 15 Des 1947 - Kabinet Warouw
- 15 Des 1947 - 12 Jan 1949 - Ide Anak Agung Gde Agung - Kabinet Pertama
- 12 Jan 1949 - 27 Des 1949 - Ide Anak Agung Gde Agung - Kabinet Kedua
- 27 Des 1949 - 14 Mar 1950 - Kabinet J.E. Tatengkeng
- 14 Mar 1950 - 10 Mei 1950 - Kabinet D. P. Diapari
- 10 Mei 1950 - 17 Agu 1950 - Kabinet J. Poetoehena

Peristiwa-peristiwa penting

- 27 Mei 1947 - Pengunduran diri ketua DPRS Tadjoeddin Noer
- 3 Des 1947 - DPRS mengirim misi persaudaraan ke Republik Indonesia di Yogyakarta
- 30 Des 1947 - Pihak oposisi mendirikan Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (GAPKI) di Makasar, dipimpin oleh A. Mononutu
- 22 Jan 1948 - RI mengakui NIT sebagai negara bagian dari RIS yang akan dibentuk
- 18 Feb 1948 - Misi persaudaraan dari GAPKI tiba di Yogyakarta
- Okt 1948 - RI mengirim misi persaudaraan ke NIT yang diketuai Mr.Sartono
- Des 1948 - Kabinet NIT memprotes keras Agresi Militer II ke wilayah RI
- 6 Feb 1949 - PM Ide Anak Agung Gde Agung selaku penghubung BFO menemui Wapres Bung Hatta yang ditawan Belanda di Bangka.

Sumber,
> Buku, Ringkikan sandelwood dan harumnya cendana
^ (Indonesia) Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, Jurnal sejarah: pemikiran, rekonstruksi, persepsi, Yayasan Obor Indonesia, ISSN 1858-2117
^ Ensiklopedi Umum, Penerbit Kanisius, Edisi Kedua dengan EYD, 1977, hal.586, ISBN 978-979-413-522-8
^ Ensiklopedi Umum, Penerbit Kanisius, Edisi Kedua dengan EYD, 1977, hal.587, ISBN 978-979-413-522-8

Senin, 10 Desember 2012

"RIA RAGO PAHLAWAN DARI LEMBAH NDONA"

Sinopsis Film:

Foto ini adalah Foto asli Ria Rago yang di ambil oleh Pater. P. Beltjens, SVD tahun 1930, sumber museum Trophen Belanda

Oleh: Marlin Bato
Jakarta, 09 Desember 2012

Produksi "Soverdi" Ende tahun 1930


Judul asli film ini dari bahasa Belanda yaitu "Ria Rago De Heldin Dan Het Ndona-Dal". Ria Rago adalah sebuah film drama dokumenter yang di produksi tahun 1930 di Ndona Ende Flores NTT. Film ini disutradarai oleh P. Simon Buis, SVD bekerja sama dengan P. P Beltjens, SVD misionaris Belanda yang kala itu bertugas di lingkup pastoral Ndona Ende. Secara historis film ini mengisahkan romantisme dan kecintaan seorang pria tua yang kaya raya kepada seorang gadis desa nan rupawan. Meski digarap oleh P. Simon Buis dan P. P Beltjens SVD, film ini tetap melibatkan aktris dan aktor dari masyarakat lokal Ende Lio serta pemeran pendukung dari susteran Ndona.

Nama-nama tokoh dalam film ini terdiri atas:

1. Ria Rago - Pemeran utama wanita pemberani yang menjadi korban perjodohan
2. Rago Da`Oe - Ayah kandung Ria sang penganut feodalisme yang serakah
3. Enga Padi - Ibunda Ria yang terjerumus dalam pemikiran sempit suaminya
4. Dapo Doki - Lelaki yang menggebuh-gebuh ingin mempersunting Ria
5. Haji Dasa - Sang negosiator (juru bicara/comblang)
6. Martinus Koenoe - Katekis/misionaris
7. LE Dr. J.M Kanoo - Dokter

Film ini diangkat dari kisah nyata, sebagaimana yang terjadi di sekitar masyarakat lokal dalam kurun waktu tahun 1923. Alkisah film ini bermula dari kedatangan Haji Dasa sang negosiator (juru bicara) kepada Rago Da`Oe untuk menyampaikan pesan dari dari Dapo Doki yang ingin meminang Ria sebagai istri sebagaimana kebiasaan-kebiasaan menurut tradisi masyarakat lokal. Singkat cerita, setelah mendapat restu dari Rago Da'Oe, Dapo Doki pun langsung menyerahkan puluhan ekor hewan sebagai mahar/belis untuk kedua orang tua Ria. Petaka pun mulai menghampiri Ria, sang gadis nan cantik jelita dari lembah Ndona.

Klimaks dari kisah ini, Rago Da'Oe ayahanda Ria pun mengatur pernikahan puterinya dengan Dapo Doki, seorang Muslim. Namun dengan tegas ia menolak pinangan Dapo juragan kaya dari kampung tetangga. Sejak saat itu, penyiksaan terhadap dirinya datang silih berganti, baik dari kedua orang tuanya maupun dari orang-orang suruhan Dapo. Pemukulan demi pemukulan pun datang bertubi-tubi, hingga akhirnya ia melarikan diri mencari suaka ke susteran misi yang menawarkan tempat aman baginya. Akan tetapi ayah dan kroni-kroninya berhasil menemukannya. Bagaimanapun, ia harus dibawa kembali ke desa karena ayahnya terlanjur menerima mahar yang cukup besar dari Dapo.

Setelah berbulan-bulan mengalami penyiksaan, Ria tetap tidak menyerah. Lagi-lagi ia dapat meloloskan diri dari penyiksaan tragis dan kembali ke bangsal susteran misi. Namun, ketika ia baru menjejakkan kakinya di teras bangsal, tiba-tiba saja dia ambruk. Tubuhnya rapuh lagi sekarat, wajahnya yang dulu putih cantik, ceria dengan rambut yang panjang terurai dalam sekejap suram dan redup, tak tampak aura kebeningan melintas dimatanya, ia tak sanggup lagi menahan beban penyiksaan. Nyawanya tak dapat tertolong. Kontan saja para suster mengutus orang untuk menjemput kedua orang tua beserta sanak saudaranya untuk menyaksikan betapa sadisnya perbuatan mereka terhadap puterinya. Namun meski di ambang kematian, pahlawan dari lembah Ndona ini meminta para suster dan kedua orang tuanya untuk melakukan upacara terakhir yaitu "menerima sakramen minyak suci". Seketika ayah Ria memutuskan untuk membatalkan pernikahan dan mengembalikan mahar kepada Dapo, namun semua sudah terlambat, penyesalan pun tak berarti lagi. Di akhir kisah, meski di ranjang kematiannya Ria pun mengampuni kedua orang tuanya.

Kisah ini, mengingatkan kita pada legenda Siti Nurbaya dan Datuk Maringgi dari pulau Sumatera. Secara substantif, ada kemiripan dari kisah ini meski ada perbedaan locus serta nama dan ketokohan. Karena itu, perjuangan Ria Rago, Siti Nurbaya dapat pula disandingkan dengan Cut Nyak Dien dari Aceh, RA. Kartini dari Jawa, Martha Christina Tiahahu dari Ambon dan lain sebagainya tentu saja ini suatu perjuangan yang sangat berarti bagi persamaan jender serta persamaan hak dengan kaum pria yang cenderung mendominasi di seluruh lini kehidupan. Sehingga lewat kisah-kisah seperti inilah tiap-tiap insan dapat memahami makna "Emansipasi Wanita".

Terimakasih, semoga bermanfaat. Salam Embun!!